PALEMBANG – Perkumpulan Lembaga Lingkungan Hidup Jejak Bumi Indonesia (JBI) bersama konsultas kopi melakukan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat dalam perbaikan kualitas kopi di Sumatera Selatan (Sumsel).
Pendiri JBI juga sekretaris F-KIM Sumsel, Hendra A Setyawan mengatakan, luas kebun kopi di Sumsel mencapai 257.000 ha dan produksi per tahun mencapai 211.681 ribu ton pertahun.
“Ini menjadi yang terbesar di Indonesia. Akan tetapi komoditas kopi belum bisa mengangkat kesejahteraan petani, belum lagi cerita pengrusakan kawasan hutan dengan perkebunan kopi, masih menjadi perjuangan bersama agar pola yang tepat mengelolanya,” ungkapnya.
Dijelaskannya,agar masyarakat sejahtera dan hutan lestari. JBI melakukan sosialisasi bagaimana mengelola dengan kualitas baik agar diterima eksportir dengan harga tinggi.
“Selama ini perdagangan kopi di petani permasalahan sangat komplek dari kualitas pengelolaan kurang baik, pengelolaan perkebunan kopi yang tidak baik dan harga jual juga kurang memuaskan,” ucapnya.
dia menilai, pihaknya bersama konsultan kopi dari Medan Anton Bukit dan Dharma Satria Putra yang sudah lama bergelut dalam pengelolaan kopi dan perdagaan kopi untuk ekspor melakukan edukasi di beberapa kecamatan penghasil kopi di sumsel.
“Diantaranya di Kabupaten OKU dan OKU Selatan. Tujuannya agar masyarakat mendapatkan kualitas kopi terbaik,” terangnya.
Ditambahkannya, setelah kopi telah memiliki kualitas yang baik, JBI dan Eksportir akan membeli kopi kualitas tersebut dengan harga yang lebih tinggi dari saat ini.
“Kami punya harapan besar bahwa dengan kualitas kopi baik, harga baik tentunya ini juga yang akan mengurangi kerusakan hutan akibat perambahan yang terus beralangsung,” paparnya*
