Tanggamus, Lampung – September 2025
Jejak Bumi Indonesia menyelenggarakan Pelatihan Global Forest Watch (GFW) dan Pengambilan Data Jejak Karbon Petani Kopi selama tiga hari di Kabupaten Tanggamus, Provinsi Lampung. Kegiatan ini dilaksanakan bekerja sama dengan Rainforest Alliance sebagai bagian dari upaya penguatan kapasitas petani dan pemangku kepentingan lokal dalam pengelolaan pertanian kopi berkelanjutan berbasis data.
Pelatihan menghadirkan Ivan Rayendra Bakar, Ketua Jejak Bumi Indonesia Lampung, sebagai pemateri utama. Dalam paparannya, ia menjelaskan pemanfaatan platform Global Forest Watch (GFW) untuk pemantauan tutupan hutan, analisis perubahan penggunaan lahan, serta keterkaitannya dengan emisi dan stok karbon pada lanskap pertanian kopi.
Selain itu, materi mengenai perhitungan nilai karbon disampaikan oleh Indra Kurniawan, S.Hut., selaku Ketua Tim Pelatihan, bersama M. Roffi, S.Hut., yang merupakan tim dari Jejak Bumi Indonesia Lampung. Materi ini membahas konsep dasar hingga aspek teknis penghitungan nilai karbon, potensi ekonomi karbon, serta pemanfaatan data stok dan jejak karbon sebagai dasar perencanaan program keberlanjutan dan mitigasi perubahan iklim.
Peserta pelatihan berasal dari berbagai unsur pemangku kepentingan yang terlibat langsung dalam sektor kopi dan isu keberlanjutan. Kegiatan ini diikuti oleh 6 orang Ketua Kelompok Tani, 4 orang perwakilan Karang Taruna/Ketua Pemuda, 2 orang perwakilan dari PT. Asia Makmur selaku eksportir kopi, 2 orang dari LSM Tapak Liman, 1 orang perwakilan dari Rainforest Alliance, serta 2 orang dari Jejak Bumi Indonesia Lampung. Komposisi peserta yang beragam ini diharapkan mampu memperkuat kolaborasi lintas sektor dalam pengelolaan kopi berkelanjutan berbasis data karbon.
Pelatihan dilaksanakan melalui sesi kelas dan praktik lapangan. Pada praktik lapangan, peserta melakukan pengambilan titik sampel untuk analisis stok karbon dan jejak karbon, disertai wawancara langsung dengan pemilik lahan atau kebun kopi. Data yang dikumpulkan meliputi sumber emisi karbon dari aktivitas pengelolaan kebun, antara lain penggunaan pupuk, pestisida, herbisida, mesin pengolahan lahan, aktivitas transportasi dan kendaraan bermotor, serta praktik budidaya lainnya yang berkontribusi terhadap emisi karbon.
Melalui kegiatan ini, Jejak Bumi Indonesia berharap dapat meningkatkan kapasitas petani kopi dan pemangku kepentingan lokal dalam menerapkan praktik pertanian berkelanjutan berbasis data. Kegiatan ini juga diharapkan mampu mendorong pengurangan emisi gas rumah kaca sekaligus meningkatkan nilai tambah kopi Lampung sebagai produk pertanian yang ramah lingkungan dan berdaya saing.
