LEMBAGA LINGKUNGAN HIDUP

Jejak Bumi Indonesia Akan Lestarikan Damar Mata Kucing
Home » Eco System  »  Jejak Bumi Indonesia Akan Lestarikan Damar Mata Kucing
Jejak Bumi Indonesia Akan Lestarikan Damar Mata Kucing
There are many variations of passages of Lorem Ipsum available, but the majority have suffered alteration in some form

Sumsel, mediajis.com – Perkumpulan Lembaga Lingkungan Hidup (LLH) Jejak Bumi Indonesia akan melestarikan plasma nutpah lokal produktif di Sumatera Selatan (Sumsel). Salah satunya yakni, tanaman pohon Damar jenis mata kucing.

Pendiri Perkumpulan LLH Jejak Bumi Indonesia Hendra A. Setyawan S.I.Kom., M.I.Kom saat dibincangi mediajis.com. jum’at (11/12). Mengatakan pelestarian ini dilakukan menyikapi nyaris punahnya damar mata kucing di kabupaten OKU.

“Kemarin kita telah mengunjungi Pak H Asmawi beliau adalah petani damar di Kecamatan Sosoh Buay Rayap OKU, menurut beliau saat ini damar mata kucing hanya tinggal sedikit dan sudah sulit untuk ditemukan bahkan terancam punah,” kata Hendra.

Dikatakan Hendra, Damar mata kucing adalah jenis damar yang langka didunia. Di Indonesia khususnya di Sumsel Damar jenis ini merupakan endemic namun terancam punah. “Di OKU sendiri saat ini sudah sedikit. Kalau dulu hampir setiap kecamatan ada damar jenis ini,” ucapnya.

Damar mata kucing ini memiliki ciri getah putih bersih. Pohonya tinggi mencapai 40 – 50 meter dengan diameter pohon bisa mencapai 5 meter. “Damar ini yang diambil getahnya yang bisa dibuat sebagai bahan baku varnish, kosmetik, untuk membatik, cet dan liannya. Keistimewaan damar mata kucing ini memiliki getah yang bening putih bersih,” jelasnya.

Pohon Damar

Damar mata kucing ini memiliki daya ekonomi tinggi, harga damar yang masih kotor saja dihargai sekitar Rp 20 ribu /Kg sedangkan yang bersih bis amencapai Rp 30 ribu /Kg. “Bayangkan saya kalau punya banyak batang damar, dalam satu batang bis menghasilkan ratusan Kg bahkan tonan getah damar dengan harga yang lumayan bisa meningkatkan daya ekonomi masyarakat,” ujarnya.

Namun diakui Hendra Produktifitas pohon damar memakan waktu yang cukup lama bisa mencapai 20-25 tahun pohon baru siap panen. Namun hal ini bukanlah menjadi alasan untuk melakukan pelestarian. “semua tentu butuh tahap dan proses yang panjang, pelestarian damar mata kucing ini sendiri sesuai dengan program satu milyar pohon yang dicanangkan oleh perkumpulan LLH jejak Bumi Indonesia yang menjadi payung program Jejak,” imbuhnya.

Perkumpulan LLH Jejak Bumi Indonesia akan berupaya untuk melestarikan damar mata kucing ini, langkah pertama lanjut Hendra LLH jejak akan memetakan potensi damar mulai dari hulu kehilirnya, baik dari pohon hingga pasar damar. “Getah Damar ini merupakan hasil hutan bukan kayu (HHBK) jadi kita akan petakan potensinya, Di sumsel ini damar memiliki potensi yang cukup besar,” tambahnya.

Selian itu dikatakan Hendra, LLH Jejak Bumi Indonesia akan mendorong sumber sertifikasi benih damar serta mendorong kementrian kehutanan baik lembagan negara dan swasra termausk Jejak untuk membangun program damar yang berkelanjutan.

“jejak akan melakukan riset yang berkelanjutan, pemberdayaan. Seperti yang saya katakana tadi semua butuh waktu dan proses yang berkelanjutan. kita tetap optimis program pelestarian damar mata kucing inmi akan menjadi investasi bagi anak cucu kita kelak,” tandasnya (AND)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *